12 Tradisi Unik Menyambut Bulan Puasa di Jawa Timur yang Masih Dilestarikan

Jawa Timur – Bulan suci Ramadhan adalah waktu yang penuh berkah dan ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di Indonesia, tak terkecuali masyarakat Jawa Timur. Setiap daerah di Jawa Timur memiliki tradisi khas yang unik dalam menyambut bulan puasa, yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi-tradisi ini bukan hanya sekedar ritual, tetapi juga mencerminkan perpaduan nilai-nilai Islam dengan budaya lokal yang kental.
Berikut adalah 12 tradisi menyambut bulan puasa di Jawa Timur yang masih dilestarikan hingga saat ini:
1. Nyekar: Ziarah Kubur Menjelang Ramadan
Nyekar adalah tradisi ziarah kubur yang umum dilakukan masyarakat Jawa Timur menjelang bulan Ramadan. Masyarakat mengunjungi makam leluhur dan kerabat yang telah meninggal, membersihkan makam, dan mendoakan mereka. Tradisi ini memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai pengingat akan kefanaan hidup dan persiapan spiritual untuk menyambut Ramadan.
2. Ngosaran: Tradisi Khas Bangkalan Madura
Di Bangkalan, Madura, ada tradisi ngosaran, di mana masyarakat melakukan gotong-royong untuk membersihkan kompleks pemakaman. Selain menjaga kebersihan, kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antar warga yang jarang bertemu. Hal ini menggambarkan kekuatan kebersamaan dalam masyarakat Madura.
3. Unggahan atau Megengan
Di Blitar, tradisi unggahan atau megengan dilakukan seminggu sebelum Ramadan. Masyarakat membawa nasi kotak atau berkatan yang berisi lauk-pauk dan kue apem. Kue apem, yang berarti maaf dalam bahasa Arab, menjadi simbol permohonan pengampunan menjelang bulan suci.
4. Mandi Bersama di Sendang Sono Gresik
Masyarakat Gresik memiliki tradisi mandi bersama di Sendang Sono sebagai simbol penyucian diri sebelum Ramadan. Air dari Sendang Sono dipercaya memiliki berkah yang dapat membersihkan dosa-dosa sepanjang tahun.
5. Ta’butaan di Jember
Ta’butaan di Jember menggabungkan unsur kesenian jaranan dengan ondel-ondel Betawi. Tradisi ini menjadi simbol kegembiraan masyarakat dalam menyambut bulan Ramadan, mengandung nilai spiritual dan kultural yang kuat.
6. Nyadran Sonoageng di Nganjuk
Di Nganjuk, tradisi Nyadran Sonoageng dilaksanakan dengan arak-arakan tumpeng besar yang berisi hasil bumi. Warga berkumpul, mengenakan pakaian tradisional, dan mengarak tumpeng menuju Candi Lor. Acara ini juga diwarnai dengan berbagai pertunjukan seni tradisional.
7. Cuci Karpet di Mata Air Umbulan Pasuruan
Di Pasuruan, masyarakat mencuci karpet masjid secara gotong royong di Mata Air Umbulan menjelang Ramadan. Karpet yang telah dibersihkan ini akan digunakan untuk menyambut ibadah tarawih selama bulan puasa.
8. Gerebeg Apem di Jombang
Gerebeg Apem adalah tradisi di Jombang yang melibatkan arak-arakan kue apem yang diperebutkan oleh warga. Kue apem yang diperebutkan ini memiliki makna pengampunan dan keberkahan bagi yang mendapatkannya.
9. Resik Lawon di Banyuwangi
Resik Lawon adalah tradisi khas Banyuwangi yang melibatkan pembersihan kain kafan sepanjang 110 meter di Dam Krambatan. Tradisi ini menghormati leluhur dan merupakan simbol pembersihan diri secara spiritual.
10. Potong Rambut Massal di Ngawi
Di Ngawi, tradisi potong rambut massal menjelang Ramadan melibatkan warga dari segala usia. Tukang pangkas melakukan potong rambut secara gratis, yang melambangkan pembersihan diri sebelum memasuki bulan puasa.
11. Pasar Bandeng di Gresik
Pasar Bandeng di Gresik merupakan tradisi yang melibatkan pedagang bandeng yang menjual ikan bandeng berbagai ukuran. Pasar ini menjadi ikon budaya Gresik dan merupakan tradisi yang masih bertahan sejak zaman Sunan Giri.
12. Kolak Ayam di Probolinggo
Di Probolinggo, masyarakat membuat kolak ayam, hidangan khas yang menggabungkan kolak dengan daging ayam. Tradisi ini menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar warga menjelang bulan puasa.
Kesimpulan
Keberagaman tradisi yang ada di Jawa Timur menjelang bulan Ramadan tidak hanya menunjukkan kaya budaya yang dimiliki, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur. Setiap tradisi yang dilestarikan ini menjadi sarana untuk mempersiapkan diri secara spiritual dan menjaga hubungan silaturahmi dengan sesama. Tradisi-tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Jawa Timur dalam menyambut bulan puasa yang penuh berkah.